Halaman

Kamis, 02 Mei 2013

SI BISU DAN PEMUDA LUGU

Suatu ketika di saat siang hari, matahari di atas kepala. Aku mendapatkan tugas dari ibuku, untuk mengantarkan barang dagangan ke rumah pelangganku. Seperti biasa, aku menaruh barang belanjaan di motor bagian depanku. Karena jarak yang aku tempuh lumayan jauh, aku mengendarai motorku dengan pelan. Sampai disana aku langsung memberikan barang belanjaan itu dan di sana aku mendapat beberapa pelajaran di hari ini dari orang-orang yang sangat berjiwa besar.

Saat perjalanan pulang, aku melihat kerumunan orang-orang di sudut rumah. Lantas aku pelankan jalan motorku di jalanan yang sempit di sisi gang rumah-rumah. Aku pun terkaget dalam alam pikiranku, betapa tidak dia adalah seorang laki-laki yang sebaya dan dengan riasan putih tebal menutupi wajah lugunya sedang menggendong pengeras suara (salon) sendirian sedang bernyanyi dengan riangnya sambil menanti upah receh dari warga sekitar.

Dalam hatiku tersontak, ketika melihat perbandingan antara aku dan dia. Berpikir bagaimana jika posisi pemuda itu dengan aku berputar? Ternyata dia memiliki semangat juang yang tinggi, dan aku masih saja bermalas-malasan dengan potensi yang aku pikir, aku telah mengetahuinya. Penyakit malas ini, dengan cara apa agar aku bisa sembuh total dan aku curi dunia ini dengan tanganku.

Rasa-rasanya, aku sedikit malu dengan dia. Karena aku kalah jauh dengan semangatnya yang bekerja dari upah-upah kecil, dibandingkan dengan aku yang masih kerja sedikit dan sudah berhenti begitu saja. Pandangan sekejap namun penuh pelajaran di hari ini untukku.
 


Diam sejenak aku di rumah, dan aku teringat aku harus mengganti ban motorku yang telah gundul. Aku ambil ban motor baru di atas meja yang sudah disiapkan jauh hari oleh ayahku. Lalu akupun pergi ke sebuah bengkel tambal ban tempat biasa aku memompa ban motorku saat kempis. Namun sampai disana, ternyata bengkelnya tutup. Tukang becak di dekat bengkel itu mengatakan padaku, kalau tukang tambal ban itu sedang pergi ke kampung halamannya di desa seberang.

Lanjut aku menysuri jalan raya yang penuh dengan lalu lintas mobil-mobil mewah yang membuang asap polusi yang membuat paru-paru manusia rusak dengan sia-sia dengan laki-laki tua pengayuh sepeda yang akan pergi ke laut untuk mencari nafkah. Begitu tak adil rasanya, polusi udara siapa yang membuat, yang terkena dampaknya siapa? Tapi itu sudah menjadi kebiasaan dan kewajaran bagi masyarakat bodoh disini. Namun pemikiran saya, ini adalah kesalahan.

Tak lama, aku melihat sebuah rumah sederhana tanpa pagar. Nampak seperti gubuk tua di pinggiran jalan yang bertandakan tambal ban. Ku hampiri lelaki tua itu, rasanya dia cukup ahli dalam bidang yang sedang digelutinya. "Pak, ganti ban depan saja." sapa ku saat menemuinya yang sedang merapikan peralatan bengkel kesayangannya. Pelan-pelan aku memberikannya ban baru pemberian dari ayahku. Dia hanya memberikan aku intruksi dengan tangannya agar aku memakirkan motorku di depan persis apa yang ia inginkan. Tak berpikir lama, aku segera melakukannya.

Sambil melihat bangunan baru di samping bengkel tua, aku mengingat-ingat bahwa sebelum ada bangunan baru ini. Tempat itu adalah sawah yang biasa aku lalui saat masih sekolah menengah pertama di sebuah sekolah yang cukup unggul di daerahku. Sepertinya zaman sudah mulai berubah, tuntutan ekonomi membuat manusia lupa bagaimana cara mereka untuk bernafas yang membutuhkan pepohonan untuk tetap menghasilkan oksigen. Aku berpikir, mungkin suatu saat nanti umat manusia akan menyadari bahwa alam akan jauh lebih berharga dibandingkan uang yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Ya, tabung oksigen dan bencana banjri misalnya. Itu sudah cukup memberi penjelasan kecil mengenai pentingnya lahan hijau untuk umat manusia.

Sambil memandang langit yang biru dan awan yang menebal tanda akan turun hujan di daerah ini, aku memeriksa kembali motorku dan tukang tambal ban itu. Akhirnya hampir selesai juga, namun aku pikir ban motorku yang baru itu tidak bocor, kenapa harus di cek pakai dicelupkan ke air segala? Ah cetusku, pelayanannya tukang tambal ban itu sangat komprehensif. Selesai sepertinya, sekali lagi dia hanya mengisyaratkan angka lima ribu untuk jasa pemasangan ban motorku. Oh, baiklah sambil tersenyum aku katakan padanya, "Terimakasih pak..." Lalu aku bergegas pulang kembali ke rumah, karena titik-titik air sudah jatuh ke tanah.

Ya, sampai di rumah ibuku bercerita kalau tukang tambal ban itu seorang yang tidak bisa berbicara secara sempurna atau tuna rungu. Dalam benakku berpikir, ya dia memang hebat. Talk less do more, ketidak sempurnaannya, iya memiliki semangat yang sangat sempurna. Tuhan menciptakan berbagai manusia yang beragam. Dari keberagaman sifat dan karakteristik itu kita mendapatkan pelajaran. Pelajaran dalam hidup ini untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah SWT. Alhamdulillah_